SELAMAT HARLAH: BERSAMA NU TUMBUH DIGDAYA
Secara politik, konsistensi NU justru terletak pada inkonsistensinya. Inilah eksotisme NU yang kadang menampilkan wajah ambigu. Saya lebih suka menyebutnya sebagai "kekecualian" atau exceptionalism, tulis Burhanudin Muhtadi.
Jadi, toleransi NU justru terletak pada intoleransinya itu sendiri — inklusifitas nya terletak pada eksklusifitasnya. Kebhinekaannya terletak pada hegemonik-nya. Keragamannya terletak pada ke akuannya secara kolektif. Ini memang sikap bipolar semacam tidak konsisten yang ajeg. Tapi disitulah terletak kekuatan sekaligus kelemahannya.
NU sulit diringkus dalam satu definisi yang konklusif. Ia juga susah dijelaskan melalui formula yang rigid, kaku, atau tunggal. Logo NU yang menggambarkan tali bumi yang longgar menyimbolkan karakter NU yang inklusif dan menampung keberagaman pemikiran dan cara pandang. Dari rahim NU, lahir banyak ulama atau pemikir yang memiliki spektrum warna-warni, dari yang liberal-pluralis hingga konservatif-islamis.
Maka memahami kultur dan tradisi NU tidak bisa menggunakan standarnya para ulama dan elite di atas — tapi justru pemimpin atau yang disebut oleh Gus Dur Kyai Kampung—karena keotentikan dan origjnalitasnya masih terjaga.
Inklusivitas adalah kuncinya. NU bisa menjadi rumah besar bagi aliran, idelogi, manhaj bahkan mereka yang lain imanpun dibikin nyaman dalam menjalankan ibadah dan ritual ke-agamaan.
NU menabalkan diri sebagai jamiyah yang melindungi dan mencakup semua. dengan model harakah seperti ini maka NU punya potensi besar menjadi paham universal dalam konteks ideologi harakah.
Keterbukaan nya adalah niscaya ditandai dengan modernisasi pesanttten dengan tidak menanggalkan tradisi hal mana biasanya dibuang karena alasan purifikasi atau pemurnian.
NU bisa bekerja sama dengan siapapun bahkan dengan rezim yang disebut zalim sekalipun. Karena ditopang dengan ideologi yang kokoh, madzab yang kuat dan jamaah yang solid maka NU tak pernah kawatir kadernya pindah haluan. Kader NU Tetap mencium tangan kyai. Membaca berzanji atau melantunkan dhiba’ meski kuliah di ummul Qura kandangnya Salafi Wahabi atau Qoum di Iran.
Robin Bush menyebut bahwa NU adalah kekecualian — tak bisa dipatok dalam definisi rigid. Antum tak bakal paham NU jika hanya mengantongi sebuah definisi. Antum akan mengalami defisit pemahaman.
Kelembagaan NU lahir tahun 1926 terkesan lebih muda tapi jangan lupa akar tradisi keberagamaan nya telah ada seiring dengan proses masuknya agama Islam di Indonesia. Jadi NU bukan saudara muda, tapi sebentuk proses pelembagaan dan peneguhan tradisi keberagamaan yang dianut mayoritas publik — seperti yang pernah ditulis oleh Zamakhsyari Dhofir dan Anderson.
Pesantren pesantren tua dan besar semisal Sidogiri, Lirboyo, Kyai Kholil Bangkalan atau Kyai saleh nDarat Semarang adalah bukti otentik kesejarahan tradisi NU yang tumbuh bersama jamaah akar rumput. Sebab pesantren tidak tumbuh ekslusif, sebaliknja selalu menjadi teman bagi santri dan jamaah.
Para Ulama dan pempimin di NU
(kyai, masayikh, gus, habaib),
tumbuh secara kultural, tumbuh karena pengakuan dan legalitas umat, bukan lahir karena struktural birokratis yang kemudian berakhir karena masa periodesasi. Meski kemudian tak sepenuhnya sahih dalam konteks keumatan, NU bisa berfungsi menjadi rumah tempat berteduh bagi kekuasaan dan kebangsaan dalam artian yang sesungguhya.
Penulis : Nurbani*
Editor : Khoen Eka
Co. Editor : Windy Kiswha
Ilustrasi Gambar: herry P.
*Penulis adalah Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Batu
Bagikan artikel ini:
Diskusi & Tanggapan (1)
A
asdasd
21 Jun 2026 16:20asd