M
Kembali ke Beranda
Berita Terbaru

Khotbah Iduladha 1447 H Ajak Jamaah Jadikan Kurban sebagai Momentum "Menyembelih" Sifat Buruk

Administrator
27 May 2026 612x Dibaca
Khotbah Iduladha 1447 H Ajak Jamaah Jadikan Kurban sebagai Momentum "Menyembelih" Sifat Buruk
KOTA BATU – Khatib Iduladha 1447 H, Farid Hamidy, Lc., mengajak umat Islam menjadikan ibadah kurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi juga sebagai momentum membersihkan diri dari sifat-sifat buruk yang melekat dalam diri manusia. Pesan tersebut disampaikan dalam khotbah Iduladha di Parkiran Selecta, Tulungrejo, Kota Batu, Rabu (27/5), setelah pelaksanaan salat Ied yang dipimpin Imam Ustadz Baharudin Sya’ban, M.Ag.

Dalam khotbahnya, Farid Hamidy menjelaskan bahwa hakikat kurban menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah tidak hanya terbatas pada penyembelihan hewan fisik seperti kambing, sapi, atau kerbau. Menurutnya, esensi utama dari ibadah kurban adalah menyembelih dan menghilangkan dua sifat buruk dalam diri manusia, yakni sifat setan dan sifat binatang.

Ia menjelaskan bahwa sifat setan tercermin dalam perilaku enggan menaati perintah Allah. Contohnya, seseorang mengaku beragama Islam tetapi malas melaksanakan salat, puasa, membayar zakat, maupun berhaji padahal mampu secara finansial. Selain itu, sifat setan juga tampak dalam kesombongan, yakni merasa diri lebih baik dan lebih suci dibandingkan orang lain. Sifat tersebut, menurutnya, dapat menghalangi seseorang masuk surga meski hanya sebesar biji sawi.

Farid Hamidy juga mengingatkan jamaah tentang bahaya sifat kufur nikmat, yaitu menutup diri dari kebenaran dan tidak mensyukuri nikmat yang diberikan Allah Swt. Ia menyebutkan bahwa kufur nikmat dapat mendatangkan berbagai musibah, seperti hilangnya harta, penyakit, hingga bencana dalam kehidupan.

Selain sifat setan, khatib juga menyoroti sifat binatang yang harus “disembelih” dalam momentum Iduladha. Sifat tersebut antara lain minim rasa malu ketika melakukan maksiat, seperti korupsi, berjudi, mabuk, hingga mempertontonkan aurat secara terbuka. Ia juga menyinggung sifat tamak dan rakus yang mendorong seseorang mengambil hak orang lain atau melakukan korupsi demi menumpuk kekayaan.

Tidak hanya itu, Farid Hamidy mengkritik praktik “hukum rimba”, yaitu ketika pihak yang kuat menindas pihak yang lemah, baik karena kekuatan fisik, jabatan, maupun kekayaan. Padahal, menurut ajaran Islam, yang kuat seharusnya melindungi yang lemah dan yang kaya membantu kaum miskin.

Menutup khotbahnya, Farid Hamidy mengajak seluruh jamaah menjadikan Iduladha sebagai momentum evaluasi diri dengan sungguh-sungguh membuang sifat setan dan sifat binatang agar menjadi insan yang bertakwa dan pantas mendapatkan surga Allah Swt. (Khoen Eka/MPI PDM Kota Batu)
Bagikan artikel ini:

Diskusi & Tanggapan (0)

Tinggalkan Komentar

Belum ada tanggapan. Jadilah yang pertama berkomentar!