M
Kembali ke Beranda
Berita Terbaru

Regional Meeting LPCR-PM Jatim: Prof. Abdul Mu’ti Dorong Dakwah Kreatif dan Berbasis Karya

Administrator
20 September 2026 686x Dibaca
Regional Meeting LPCR-PM Jatim: Prof. Abdul Mu’ti Dorong Dakwah Kreatif dan Berbasis Karya
(Prof. Abdul Mu'ti saat memberikan pengarahan/Istimewa)


MUHAMMADIYAH BATU— Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed. mengajak warga Muhammadiyah untuk terus mengembangkan gerakan dakwah yang kreatif, adaptif, dan diwujudkan melalui karya nyata. Pesan tersebut disampaikan dalam Regional Meeting Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCR-PM) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur di Perguruan Muhammadiyah Kota Batu, Ahad (20/9/2026).

Dalam pembinaannya, Prof. Abdul Mu’ti menyampaikan konsep “3 K dan 3 K” sebagai pedoman dalam mengembangkan gerakan Muhammadiyah. Tiga hal yang perlu diperkuat adalah mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran secara bersama-sama, tetap kreatif dalam bergerak, serta konsisten dalam menjalankan gerakan.

Menurutnya, bergerak bersama tidak berarti semua harus dilakukan dengan cara yang sama. Setiap cabang, ranting, dan masjid dapat mengembangkan kreativitas sesuai dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat di lingkungannya.

“Bersama-sama, tetapi tetap harus kreatif. Terus bergerak, tidak harus selalu sama. Dan yang tidak kalah penting adalah konsisten,” ujarnya.

Sementara itu, tiga hal yang perlu dihindari dalam gerakan Muhammadiyah adalah konflik, korupsi, dan sikap kolot. Ia menilai Muhammadiyah selama ini dikenal sebagai organisasi yang amanah dan senantiasa berusaha menjauhkan diri dari praktik korupsi.

“Jangan berkonflik, jangan korupsi, dan jangan kolot,” tegasnya.

Prof. Abdul Mu’ti juga mengingatkan bahwa perubahan zaman harus direspons dengan sikap terbuka. Menurutnya, perkembangan teknologi semestinya dimanfaatkan untuk mempermudah gerakan dakwah dan pelayanan umat.

Ia mencontohkan pengelolaan infak yang tidak harus dilakukan secara manual. Dengan perkembangan teknologi, pembayaran infak dapat dilakukan melalui sistem autodebet sehingga lebih mudah dan praktis.

Perubahan juga perlu dilakukan dalam cara berdakwah. Dakwah tidak selalu harus disampaikan melalui mikrofon secara langsung di hadapan jamaah. Berbagai media dapat dimanfaatkan untuk menyampaikan pesan-pesan Islam kepada masyarakat yang lebih luas.

“Muhammadiyah berdakwah dengan karya, bukan dengan hanya berkata-kata,” pesan Prof. Abdul Mu’ti.

Ia menambahkan, memahami dan menyampaikan Islam juga membutuhkan kreativitas. Kegiatan keagamaan dapat dikemas dengan aktivitas yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

“Memahami Islam harus secara kreatif. Misalnya, setelah kajian diadakan senam pagi, sarapan, atau gerak jalan. Sambil gerak jalan, membawa kantong plastik untuk mengambil sampah sepanjang jalan,” katanya.

Menurutnya, aktivitas sederhana tersebut tidak sekadar menjadi kegiatan sosial, tetapi juga dapat menjadi bentuk pengamalan ajaran Islam. Mengambil sampah dari jalan dan menjaga kebersihan merupakan perbuatan yang bermanfaat bagi orang lain sekaligus bagian dari amal kebaikan.

Melalui gerakan yang kreatif dan diwujudkan dalam karya nyata, Muhammadiyah diharapkan terus hadir memberikan manfaat bagi masyarakat. Dakwah pun tidak berhenti pada penyampaian pesan, tetapi menjadi gerakan yang dapat dirasakan secara langsung oleh umat. (Khoen Eka/Co. Windy Kiswha)

Galeri Foto Lainnya

Bagikan artikel ini:

Diskusi & Tanggapan (1)

Tinggalkan Komentar

M
M. Syarif Hidayatullah
20 Sep 2026 17:11

Kabarkan terus setiap pergerakan persyarikatan